Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Kunjungan Kerja Bapak Direktur Jenderal P2P Kemenkes RI ke KKP Kelas I Denpasar

Kunjungan kerja Bapak Direktur Jenderal P2P dr. Anung Sugihantono, M.Kes ke KKP Kelas I Denpasar, 1 Maret 2018

Pengendalian Vektor

Kegiatan pengendalian Vektor di Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 1 Denpasar

Salam CERDIK dari Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 1 Denpasar

Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola stress

Minggu, 19 Mei 2019

Tentang Monkeypox Virus (MPXV)

Monkeypox virus (MPXV) adalah ortopoxvirus yang menyebabkan penyakit virus dengan gejala serupa cacar pada manusia, tetapi lebih ringan. Monkeypox manusia endemik di desa-desa Afrika Tengah dan Barat. Penyakit akibat virus ini ditularkan melalui binatang (zoonosis). Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus. Di Afrika, infeksi pada manusia ditularkan melalui kera yang terinfeksi, tikus dan tupai. Faktor resiko lain yang memungkinkan terjadinya kasus Monkeypox karena konsumsi makanan yang telah terkontaminasi dengan proses pengolahan makanan yang kurang baik.


Penularan dari manusia ke manusia, dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekresi saluran pernapasan yang terinfeksi, lesi kulit dari orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi oleh cairan pasien. Penularan terjadi terutama melalui droplet pernapasan. Penularan juga dapat terjadi dengan inokulasi atau melalui plasenta (Monkeypox bawaan).

Masa Inkubasi dari monkeypox biasanya dari 6 hingga 16 hari tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Infeksi dapat dibagi menjadi dua periode: 
1. Periode invasi (0-5 hari) ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang intens (kekurangan energi); 
2. Periode erupsi kulit (dalam 1-3 hari setelah munculnya demam) di mana berbagai tahap ruam muncul sering dimulai pada wajah dan kemudian menyebar di tempat lain di tubuh. Wajah (dalam 95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (dalam 75% kasus) paling terpengaruh. Perubahan ruam dari maculopapules (lesi dengan basis datar) ke vesikel (lepuh berisi cairan kecil), pustula, diikuti oleh kerak terjadi dalam waktu sekitar 10 hari. Perlu waktu sekitar tiga minggu sampai ruam menghilang.
Monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 14 hingga 21 hari. Kasus yang parah terjadi lebih sering pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Belum ada vaksin yang dapat mencegah terjadinya penyakit Monkeypox, namun beberapa upaya pencegahan penularan yang dapat dilakukan diantaranya :
  1. Mengurangi risiko infeksi pada Manusia dengan meningkatkan kesadaran tentang faktor risiko dan edukasi mengurangi pajanan terhadap virus. 
  2. Menghindari kontak dengan tikus dan primata dan membatasi paparan langsung terhadap darah dan dagingnya. 
  3. Mengolah makanan dengan baik sebelum dikonsumsi. 
  4. Menggunakan sarung tangan dan pakaian pelindung lainnya yang sesuai saat menangani hewan yang sakit atau jaringannya yang terinfeksi, dan selama proses pemotongan. 
  5. Mengurangi kontak fisik yang dekat dengan orang yang terinfeksi monkeypox 
  6. Menggunakan sarung tangan dan alat pelindung diri lainnya saat merawat orang sakit. 
  7. Mencuci tangan secara teratur setelah merawat atau mengunjungi orang sakit. 
  8. Dianjurkan pasien di isolasi baik di rumah atau di fasilitas kesehatan. 
  9. Petugas kesehatan dan mereka yang merawat atau terpapar pasien, serta sampel dengan monkeypox, harus diimunisasi cacar 
  10. Penangan dan pengiriman Sampel yang diambil dari orang dan hewan yang diduga terinfeksi virus monkeypox harus ditangani oleh staf terlatih yang bekerja di laboratorium yang dilengkapi dengan peralatan dan sumberdaya manusia yang memadai. 
  11. Mencegah ekspansi monkeypox melalui pembatasan perdagangan hewan Hewan peliharaan yang berpotensi terinfeksi monkeypox 
  12. Hewan terinfeksi harus diisolasi dari hewan lain dan, hewan lain yang mungkin memiliki riwayat kontak dengan hewan yang terinfeksi ditangani dengan tindakan pencegahan standar dan diamati adanya gejala monkeypoxc harus segera dikarantina selama 30 hari. 
Masyarakat tidak perlu panik terhadap munculnya penyakit Monkeypox ini, yang harus selalu dilakukan adalah menjaga kesehatan diri dan lingkungannya menerapkan pola hidup bersih dan sehat. 


HALO KEMKES
• Telp : (kode lokal) 500567
• SMS : 081281562620
• Faks : (021) 52921669
• Email : kontak@kemkes.go.id
Sumber : 
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/monkeypox,  
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20190513/2830226/ini-tentang-monkeypox-mpx/

Kamis, 31 Januari 2019

Laporan Akuntabilitas Kinerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Denpasar Tahun 2018

Akuntabilitas Kinerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Denpasar ini secara garis besar berisikan informasi rencana kinerja dan capaian kinerja yang telah dicapai selama tahun 2018. Rencana kinerja dan penetapan kinerja tahun 2018 merupakan kinerja yang ingin dicapai selama tahun 2018 yang sepenuhnya mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015 – 2019 yang telah disarikan dalam Indikator Kinerja Utama dan Penetapan Kinerja tahun 2018.

Senin, 10 Desember 2018

Rencana Aksi Kegiatan Tahun 2018

Rencana Aksi Kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Denpasar Tahun 2015 - 2019. RAK ini berisi informasi tentang uraian rencana kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Denpasar dalam mencapai tujuan dan sasaran strategisnya selama tahun 2015 - 2019.
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No 356/Menkes/SK/III/2008, tugas pokok Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Denpasar adalah melaksanakan Pencegahan Masuk dan Keluarnya Penyakit Karantina dan Penyakit Menular Potensial wabah, Kekarantinaan, Pelayanan Kesehatan terbatas di wilayah kerja Pelabuhan/Bandara dan Lintas Batas, serta pengendalian dampak risiko lingkungan.